Hijab atau Jilbab merupakan salah satu penutup aurat wanita muslimah. Kerap kali permasalahan hijab dikaitkan dengan akhlak seseorang. Hingga hampir mencoreng kesucian hijab itu sendiri. Walau sebenarnya Hijab dan Akhlak merupakan dua hal yang sangat berbeda.

Jika engkau berjilbab dan ada yang mempermasalahkan akhlaqmu, katakan pada mereka bahwa “Antara jilbab dan akhlaq adalah 2 hal yang berbeda”. Berjilbab adalah murni perintah Allah, wajib untuk wanita muslim yang telah baligh tanpa memandang akhlaqnya baik atau buruk, sedangkan akhlaq adalah budi pekerti yang tergantung pada pribadi masing-masing. Jika seorang wanita berjilbab melakukan dosa atau pelanggaran, itu bukan karna jilbabnya namun karna akhlaqnya. “Yang berjilbab belum tentu berakhlaq mulia, namun yang berakhlaq mulia pasti berjilbab”

Sesuai dengan Sabda Radsulullah shallallahu ’alahi wassalam yang diriwayatkan oleh Abu Dawud dari ’Aisyah, (artinya) : ”Hai Asmaa! Sesungguhnya perempuan itu apabila telah dewasa/sampai umur, maka tidak patut menampakkan sesuatu dari dirinya melainkan ini dan ini.” Rasulullah Shallahllahu ’alaihi wassalam berkata sambil menunjukkan muka dan kedua telapak tangan hingga pergelangan tangannya sendiri.

Ada 3 alasan orang yang berhijab namun akhlaknya dianggap kurang baik, seperti berikut :

1. Pemahaman

Tidak semua wanita yang sudah berhijab sudah memiliki pemahaman yang baik tentang agamanya. Namun, berhijab merupakan tanda bahwa dia berusaha menjalankan kewajiban agama yang sudah diketahui dan dipahaminya. Berhijab adalah pelajaran yang lambat laun membuat pemakainya menjadi lebih baik. Sementara tidak berhijab merupakan pilihan yang membuat seseorang merasa dirinya benar terus meskipun melakukan perilaku buruk. Tidak merasa dirinya harus dan termotivasi mengubah diri.

2. Manusia Tidak Sempurna

Manusia tidak ada yang sempurna. Termasuk wanita berhijab. Adalah salah jika menganggap wanita berhijab tidak boleh marah, tidak boleh sedih, dan sebagainya. Sementara hal-hal tersebut adalah hal yang manusiawi. Meskipun jika berhijab seharusnya lebih dapat mengendalikan diri. Pengendalian emosi tidak hanya milik wanita berhijab. Tetapi harus dimiliki semua muslim.

3. Persepsi Tentang Akhlak

Persepsi tentang akhlak bias dengan adat atau sopan santun sehari-hari. Benarkah jika seseorang yang akhlaknya baik harus selalu bicara lembut dan hampir tidak terdengar. Itu persepsi. Di masyarakat tertentu, seseorang terbiasa berbicara degan keras maka hal tersebut kadang akan terbawa oleh muslimah. Lingkungan yang membentuk karakter akan sulit mengubahnya ketika sudah dewasa. Semangatnya adalah tetap adanya proses perubahan.

Alasan di atas tentu saja tidak menjadi alasan wanita muslimah yang berhijab diijinkan berakhlak buruk. Karena jilbab dan hijab adalah identitasnya sebagai muslim, diharapkan akhlaknya selalu terjaga. Tetapi tidak juga dijadikan alasan seseorang tidak memakai hijab karena belum siap. Atau ingin menjilbabkan hati dulu. Karena menakar kesiapan dan kebaikan diri tidak akan pernah habisnya. Sebagai manusia, tentu saja akan ada banyak kekurangan berada dalam dirin.

Kesimpulannya pakailah jilbabmu seraya tidak sekedar berniat untuk melakukan suatu hal yang wajib dari perintah Allah. Jangan kamu memakai jilbab hanya untuk fashion belaka, atau memakai jilbab untuk menutupi kejelekan sifatmu. Ikhlaslah memakai jilbab untuk kebaikan dirimu dan jadikan hijab sebagai kebutuhan mu, niscaya kelak kamu akan merasakan manfaat jilbabmu dan berubahlah akhlakmu.

 

 

Referensi :

https://hijabyuk.com/hubungan-hijab-dengan-akhlak

http://www.hijabina.com/blog/1897/hijab-dan-akhlak-adalah-dua-hal-yang-berbeda/

Klik Pengunjung : 116